Kamis, 31 Maret 2016

Aktor pemenang Oscar yang legendaris, Robert De Niro



Taxi Driver, film jadul yang lumayan bagus, tetapi tidak memenangkan Oscar


       Hmm.., cukup lama juga saya tidak posting lagi diblog ini. Sebenarnya selain musik ada hobi saya yang lainnya  selain olah raga, membaca, menggambar dan travelling, yaitu menonton film. Berbicara tentang film, setiap sutradara pasti ingin film yang dibuatnya berhasil, laku, dan mendapatkan penghargaan (Piala Oscar). Karena saya bukan ahli bikin film, makanya saya hanya sebagai penonton  atau pengamat saja, tetapi kalau sekedar bikin video klip dan slide atau mini movie saya bisa, he he.., jika diamati, setiap orang akan melihat dan memahami bagaimana isi film tersebut, dimana menggambarkan kehidupan, memperlihatkan kejadian-kejadian dan menampilkan ekspresi setiap pemeran dan tokoh di film tersebut, adanya ungkapan perasaan, adanya gerak dan bahasa tubuh, artikulasi, intonasi, mimik muka, dan yang lebih penting lagi adalah penjiwaan dan penghayatan peran, latihan menggunakan script (naskah), efek suara, cahaya, dan banyak lagi.  Semua dibutuhkan kerjasama antara para pemeran utama, pemeran figuran yang  mendukung, dan para kru film. Selebihnya dibutuhkan  sarana, penunjang atau properti  film serta lokasi syuting.  Film yang terlepas dari penilaian secara umum, baik positif atau negatif jika memang dikaji oleh pengamat film. Ada hal yang menarik di dunia per-film-an dimana pada dasarnya bersifat menghibur serta terkadang menggoda orang untuk berbuat diluar kehendaknya (so what ?), nanti diakhir postingan akan saya jelaskan. Hal yang lebih penting lagi adalah output dari film tersebut bisa saja untuk menambah wawasan (berpikir, pergaulan, pengetahuan). Pada dunia layar perak, seni peran dituntut untuk menjadikan hasil karya seni yang bisa menggugah perasaan penikmat film tersebut, beberapa sutradara sebagian ada yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, dari hasil ciptaannya sendiri, dan ada juga yang diambil dari novel atau hasil karya tulis orang lain yang kemudian dibuatlah film. Sementara dalam penggarapan film akan dibutuhkan waktu dan kesiapan, dan finally kerjasama antara pendukung pembuatan film sangatlah menentukan selesai dan berhasilnya  pembuatan film.

        Sekitar 1 (satu) dekade lebih yang telah silam, saya pernah nonton film jadul yang lumayan bagus, judulnya Taxi Driver, film tahun 1976, penulis film ini adalah Paul  Schrader dan disutradarai oleh Martin Scorsese, yang telah menghasilkan banyak film hasil karyanya. Sebelum Taxi Driver ada Mean Streets (1973), kemudian setelahnya ada Raging Bull (1980) yang kembali diperankan oleh Robert DeNiro, yang dilanjutkan dengan fim The King of Comedy (1983) Goodfellas (1990) dan Casino (1995). Scorse sempat berkolaborasi dengan aktor Leonardo DiCaprio, diantaranya di film Gangs of New York (2002). Baiklah, kembali kepada fim Taxi Driver, film ini diperankan oleh aktor tenar Robert De Niro, sebagai pemeran utama, Jodie Foster, Cybill Shepherd, Albert Brooks, Harvey Keitel, Peter Boyle, dan Leonard Harris.


Story atau cerita/sinopsis :

         Menceritakan tentang kehidupan duniawi di New York (Amerika), dimana Travis Bickle (Robert de Niro), pemuda 26 tahun yang kesepian dan mantan veteran perang, yang menjadi supir taksi di New York. Menjadi supir taksi di shift malam hari membuat Travis mengenal lebih jauh bagaimana sesungguhnya kehidupan malam di kota New York.

 
Resensi/review :

       Taxi Driver yang dirilis tahun 1976 ini juga menandai Martin Scorsese sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki dunia. Film ini sempat masuk nominasi piala Oscar ke-49, sebelum Leonardo Di Caprio menjadi anak emas Martin Scorsese lewat film-film Scorsese di era 2000-an seperti Gangs of New York hingga Shutter Island, Robert De Niro adalah aktor kesayangannya sebelumnya, ada 8 film Scorsese yang dibintangi oleh Robert De Niro.

         Sebagai seorang sopir taksi yang akrab dengan kehidupan kelam di sudut kota yang remang-remang itu, sisi baiknya Travis adalah membenci  akan kekotoran di kota itu (tapi kok terjun kesitu ?, he he...). Singkat cerita, pada saat itu sedang ada pemilihan calon presiden, dan si calon presiden itu pernah sempat naik taksi yang dibawa oleh Travis, lucunya si supir taksi ini bicara blak-blakan pada calon presiden kalau seandainya nanti calon presiden menang dan tepilih jadi presiden dia berharap agar seluruh kekotoran di kota itu dibasmi, mungkin si sopir taksi tidak menyadari kalau penumpangnya bakal calon presiden. Di lain adegan, Travis ini sempat bertemu dengan cewek  bernama Betsy (diperankan oleh Cybill Sheppard), yang ia kagumi (sempat pacaran gitu ?), dan ternyata dia punya pekerjaan yang cukup bergengsi, yang berkaitan dengan karir tertentu. Karena satu dan lain hal timbul suatu masalah, sehingga si cewek tersebut tidak menerima ajakan-ajakan Travis, apalagi setelah sama-sama pernah nonton film yang ada adegan porno, sepertinya Betsy ini dilarang ortunya. Karena konflik yang berkepanjangan, Travis menjadi frustasi, belum lagi di saat-saat seperti itu dimana kehidupan malam semakin bergelimang kekotoran, membuat dirinya semakin ingat akan Tuhan (mau tobat barangkali), serta teringat kedua ortunya juga. Sampai suatu saat dia berdandan ala Punk Rockers, ciri khas ada pada pakaian, dandanan, bagian rambut ala mohawk, dan aksesoris yang dia kenakan.
         Suatu hari Travis bertemu dengan dengan wanita penghibur (WTS) yang biasa dipanggil dengan nama “Easy” (Jodie Foster), dan ternyata mempunyai nama asli Iris dimana pada usia masih dibawah umur (12 atau 13 ?) sudah menjadi WTS. Travis datang ke tempat hiburan tersebut sebenarnya punya maksud lain, dia ingin menolong Irish karena dia merasa iba terhadap Irish yang menjadi WTS, karena kehidupan yang kelam itu. Pada cerita ini menampilkan sosok Travis yang anti sosial. Travis Bickle merasa dirinya terasing dari kehidupan di sekitarnya. Apalagi sejak percintaannya dengan Betsy yang tidak berjalan mulus. Travis menghadiri rapat umum, di mana ia berencana untuk membunuh Senator Palantine, tapi Secret Service agen melihat dia dengan tangannya di mantelnya dan mengejarnya. Dia melarikan diri, gagal untuk mencapai keadilan ritual nya pada orang-orang yang melihat menjadi individu yang korup. Travis kemudian pergi ke East Village dan menyerang rumah bordil Sport, kemudian berusaha membunuh para mucikari yang menjadikan Iris (Jodie Foster) seorang pelacur. Sebuah tembak-menembak kekerasan terjadi kemudian dan Travis membunuh Sport, bouncer, gangster serta mafioso. Travis terluka parah dengan beberapa luka tembak. Iris saksi pertarungan menjadi histeris ketakutan, memohon pada Travis untuk menghentikan pembunuhan. Setelah tembak-menembak, Travis mencoba bunuh diri, tetapi telah kehabisan amunisi dan mengundurkan diri dirinya untuk berbaring di sofa sampai polisi tiba. Ketika mereka melakukannya, ia menempatkan jari telunjuknya pelipisnya menunjuk tindakan menembak dirinya sendiri. Setelah pulih dari luka-lukanya dan kembali bekerja, Travis menerima surat dari ayah Iris yang berterima kasih kepadanya karena menyelamatkan hidupnya. Setelah peristiwa itu, nama Travis menjadi santer, karena masuk berita di TV dan kemudian koran membuatnya menjadi pahlawan di kota modern. Namun sebelumnya ia juga mencoba membunuh Senator Palantine, dengan alasan yang tidak jelas.  
       Di akhir cerita, meskipun terkesan ambigu, tetapi masih happy ending (tidak seperti sinema atau FTV jaman sekarang !). Travis Bickle tetap bekerja sebagai sopir taksi, begitu juga dengan Iris, dia mulai meneruskan sekolahnya dan ingin menjadi gadis yang baik-baik, selain itu Travis akhirnya berdamai dengan Betsy setelah pertengkaran yang terjadi, demikian cerita singkatnya. Oh ya saking jagonya para pemeran dalam menghayati film ini, seperti  apa yang saya ungkap di awal postingan ini ~ menggoda orang untuk berbuat diluar kehendaknya ~, yang saya maksud adalah sempat terjadinya hal berikut ini; ~ kontroversi ~ pada suatu media tersiar kabar (teks B. Inggris) : Hinckley became obsessed with the 1976 film Taxi Driver, in which disturbed protagonist, Travis Bickle (Robert De Niro), plots to assassinate a presidential candidate. The Bickle character was partly based on the diaries of Arthur Bremer, the attempted assassin of George Wallace.[3] Hinckley developed an infatuation with actress Jodie Foster, who played a child prostitute in the film. Adegan Travis Bickle hampir menembak Senator demi mendapat perhatian wanita idamannya berdampak pada aksi penembakan Ronald Reagan pada tahun 1981 oleh John Hinckley untuk mendapat perhatian Jodie Foster.
       Pengaruh film yang menginspirasi seseorang, baik secara sadar maupun tidak membuat seorang Hinckley terobsesi akan aktris Jodie Foster, dan untuk mendapatkannya dia melakukan percobaan pembunuhan : Hinckley berusaha untuk membunuh Presiden AS Ronald Reagan di Washington DC, pada 30 Maret sebagai puncak dari upaya  untuk mengesankan aktris Jodie Foster. Dilaporkan telah didorong oleh fiksasi obsesif pada dirinya, ia dinyatakan tidak bersalah dengan alasan gangguan jiwa dan tetap di bawah perawatan psikiatris institusional. Kemarahan publik atas putusan menyebabkan Undang-Undang Reformasi Pertahanan Insanity 1984, yang mengubah aturan untuk pertimbangan penyakit mental dari terdakwa di persidangan federal Pengadilan Kriminal di Amerika Serikat.
         Sampai demikian berpengaruhnya suatu film, bagi para penonton atau pengamat, tetapi hikmah dari semua itu kita tetap harus berpikir dengan logika dan akal sehat, serta lebih kepada nurani kita sebagai manusia yang mempunyai Sang Pencipta.



Dibawah ini saya sertakan Trailer dari Taxi Driver



                                                                                                                                                                                               

       





Demikianlah untuk postingan saat ini, semoga dapat menghibur anda